BEST COFFEE

Senin, 30 November 2020

Perjalanan Menuju CPNS DKI 2019: Part 3 (Seleksi Kompetensi Bidang)

Yang ditunggu-tunggu sejak bulan Maret: SKB. 

Pelaksanaan SKB tahun ini dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Jadi, walaupun jumlah peserta SKB sangat jauh lebih sedikit dari peserta SKD, tapi SKB berlangsung hampir satu bulan agar tidak terlalu banyak peserta tes di setiap sesinya (Di DKI satu sesi hanya 100 peserta). Untuk Pemprov DKI dari tanggal 1 sampai 26 September. Itu untuk lokasi tes di BKN Kanreg V. Untuk pelamar DKI yang tes di luar Jakarta, kalau nggak salah sampai tanggal 28 September.

Karena sejak pengumuman SKD kita udah tahu siapa aja rival kita, jadi jadwal tes SKB mereka pun bisa kita pantau. Kebetulan rival saya yang pertama tes di tanggal 5 September, sedangkan yang satu lagi tes tanggal 24 September. Kenapa jauh jaraknya? Karena rival yang pertama itu laki-laki, dan di BKN Kanreg V jadwal tes peserta tes laki-laki itu di awal bulan, baru pertengahan sampai akhir bulan tes untuk peserta perempuan.

Berhubung sedang pandemi dan harus jaga jarak, aturan SKB pun ada perubahan. SKB kali ini nggak boleh ditunggui pengantar/keluarga. Peserta juga nggak diperbolehkan membawa kendaraan pribadi (tidak disediakan tempat parkir).

Nah, biasanya kan pas tes itu di luar ruang tes ada TV ya untuk memantau pergerakan skor yang sedang tes. Kali ini, skor peserta bisa dipantau lewat live streaming di channel YouTube BKN. Jadi, tinggal duduk manis sambil dag dig dug mantengin skor rival kita di rumah wkwkwk. Waktu itu terpantau skor rival pertama saya 185. Langsung mikir: wah, susah nih soalnya. Dia aja cuma dapet segitu.

Makin mendekati jadwal tes saya - 18 September, tambah merasa banyak yang belum dipelajari, banyak yang belum dikuasai. Tambah deg-degan aja, apalagi udah jelas ada patokan skor rival berapa. Tapi waktu itu tetap berusaha selow walaupun sebenarnya tegang wkwkwkk. Beberapa hari sebelum tes, alhamdulillah banget tiba-tiba dikasih wejangan-wejangan dari bu Sakti Karyani. Makasih ya, Ibu 😇. Teman-teman di grup kopi juga grup WA asuhannya pak Adika juga luar biasa kasih semangatnya. Alhamdulillah dikelilingi orang-orang baik. 

Tapi jujur, malamnya sebelum tes saya merasa benar-benar down. Merasa nggak sanggup karena suami saya bilang: kamu bisa besok skor 350. Ya Allah, saya sampai nangis 😭😭. Dia nggak tahu seberapa nggak percaya dirinya saya, seberapa takut saya untuk gagal lagi di SKB ini. Bukan, bukan karena saya terlalu ambisius. Saya cuma merasa takut mengecewakan suami dan papa saya yang sudah berharap terlalu besar pada saya. 

Sampai akhirnya malam itu saya berusaha menenangkan diri dan dalam hati bilang:

Oke, saya harus ikhlas bagaimana pun hasilnya nanti

Saya kebagian jadwal tes hari Jumat, sesi kedua (pukul 14.30 - 16.00). Waktu itu jam dua belas saya sudah di lokasi. Jam satu, registrasi dimulai. Tentunya dengan serangkaian protokol kesehatan yes: cek suhu tubuh, cuci tangan, dan jaga jarak antarpeserta. Setiap peserta juga wajib pakai masker (faceshield nggak wajib). Tas dimasukkan ke dalam loker masing-masing sesuai nomor absen peserta. Peserta cuma boleh membawa pensil kayu, kartu ujian, dan KTP ke dalam ruangan. Oya, untuk peserta yang terkonfirmasi positif covid-19 disediakan ruang tes khusus juga. Keren pokoknya BKN dalam pelaksanaan tes SKB di masa pandemi ini.

Setelah pengarahan dari panitia, tes akhirnya dimulai. Berbeda dari SKD dulu di mana saya mengerjakan soal urut dari awal, kali ini saya mengerjakan soal profesional dulu. Oya, jadi soalnya terdiri dari soal pedagogik (karena formasi guru) dan soal profesional (materi matematika/sesuai bidang). Total soal 80 nomor karena soal profesionalnya memuat perhitungan. Untuk formasi lain yang soalnya tidak memuat perhitungan, jumlah soal 100 nomor, dengan durasi sama: 90 menit. 

Kenapa saya kerjakan soal profesional dulu? Karena saya merasa lebih menguasai di profesional. Gaya! Padahal mah biar hapalan rumusnya nggak keburu lupa wkwkwk. Kalau soal pedagogik, pasrah saja lah kepada Yang Maha Kuasa. Kurang lebih ada waktu 25 menitan tersisa dan dua soal yang belum terjawab. Setelah semua soal terjawab, saya pakai sisa waktu untuk koreksi ulang beberapa soal hitungan dan juga gonta-ganti jawaban di soal pedagogik. Hahahaha labil sekali.

Beberapa peserta sudah keluar sejak waktu masih tersisa 15 menit, tapi saya memilih untuk stay di tempat sampai waktu habis. Setelah waktu habis, muncul kuesioner dari BKN yang harus diisi. Setelah selesai isi kuesioner, saya langsung lipat tangan di atas meja dan menunduk. Kenapa? Karena nggak berani mau lihat skor sendiri. Wkwkwkk. 

Saya akhirnya mengangkat kepala beberapa saat kemudian setelah sadar kok ruangan sudah sepi, ternyata tinggal tiga orang aja termasuk panitia yang masih di dalam ruangan 😁. Okelah, akhirnya tiba waktunya untuk lihat skor. 

355

Saya lihat sekali lagi. 355. Sebentarrrrr... Kok cuma 355??

Loading beberapa saat sampai akhirnya baru ngeuh: oiya, ini kan soalnya cuma 80. Skor maksimal cuma 400. Saya tiba-tiba lemot, ingatnya skor SKD dulu di atas 400, kok sekarang kecil gitu. 

Langsung keluar ruangan, buang kertas coretan ke tempat sampah (ya, itu ada dua orang panitia di depan pintu dan dekat tempat sampah juga). Terus jalan menuju loker untuk ambil tas sambil nangis dong saya wkwkwkwk norak banget! Gimana ya? Kayak yang nggak percaya gitu bisa melebihi (walaupun cuma sedikit) target skor dari suami. 

Setelah ambil tas, duduk ngampar lah depan BKN sambil nyalain HP buat hubungin suami minta jemput. Begitu HP aktif, langsung masuk banyak banget chat. Ternyata ramai di grup Telegram dan WA yang tadi nonton live streaming pas saya tes. Kalian luar biasa, gaessss. Terbaik lah! 

Alhamdulillah banget pokoknya. Saya yang tadinya agak pesimis saat tahu siapa aja rival saya (yang pertama guru SMP, yang kedua guru SD swasta bonafit, dan keduanya adik tingkat di kampus yang artinya lebih fresh ilmunya), akhirnya bisa lebih unggul dari mereka (btw rival kedua tes tanggal 24 dan skornya 240). Saya lho yang cuma emak-emak biasa yang setiap hari cuma ngurusin bocah, yang udah resign ngajar sejak Desember 2013, yang bisa dibilang pengalamannya hampir NOL besar. Saya yang ibarat kata belajar lagi dari nol untuk tes ini setelah bertahun-tahun nggak buka buku bahkan nggak pegang pensil kecuali untuk ngajarin anak belajar.

Alhamdulillah.... Sekali lagi, selalu bersyukur berada di antara kalian, Pejuang Kopi. 

❤️❤️❤️



1 komentar: