BEST COFFEE

Senin, 30 November 2020

Luka (FF)

“Shilla masih terus mencarimu,” seorang gadis berdagu tirus berkata sambil menatap lurus ke depan. Entah apa yang ia pandangi. Namun, ia sama sekali tidak menatap lawan bicaranya, seorang laki-laki yang sedang berbaring tepat di hadapannya.

“Biar saja,” balas laki-laki itu pendek. Nada bicaranya sangat tenang walaupun dalam hatinya tak sedikit pun ada ketenangan. Apalagi setelah mengetahui keadaan Shilla saat ini. Pikirannya langsung saja mengelana ke mana-mana. Memikirkan segala macam hal tentang Ashilla, kekasihnya.

“Aku lelah, Rio. Kenapa kau menjebakku dalam kebohongan seperti ini, hah?” Gadis itu kembali berujar setelah sekian menit hanya diam yang melingkupi mereka berdua. Terdengar emosi yang mulai naik dalam tuturnya kali ini.

Laki-laki yang dipanggil Rio itu menggerakkan tangan kanannya untuk meraih tangan gadis itu. “Fy, please….”  Ia berseru lemah tetapi sudah cukup meluluhkan hati gadis itu.

Gadis bernama Ify itu tertunduk. Pasrah. Ia lagi-lagi tidak bisa berkata tidak. Ya, selalu saja begitu. Ia paling tidak bisa menolak apa pun permohonan Rio. Akhirnya hanya helaan napas yang terdengar dari gadis itu.

“Aku hanya tak ingin membuatnya terluka,” tukas Rio setelah Ify tak kunjung bersuara lagi.

Ify tersenyum miring merespon kata-kata yang mengetuk gendang telinganya. “Bodoh! Bagaimana bisa kau mendapatkan label cumlaude-mu itu?”

“Kau jelas-jelas sudah melukai gadis itu sejak pertama kau meninggalkannya,” tandas Ify menjelaskan maksud perkataannya sebelumnya. Ia lalu melemparkan pandangannya ke luar jendela cukup besar yang tirainya ia singkap sejak pagi tadi. Menembus kaca bening jendela itu, melihat pot-pot mawar beraneka jenis yang ia susun dengan apik dua hari lalu untuk memberi warna pekarangan samping rumah besar yang sedang mereka tempati.

Rio mengalihkan sorot mata sendunya dari wajah Ify yang terlihat letih. Wajar saja, gadis itu memang tidak memejamkan matanya semalaman. Tanpa Rio tahu, semalam suntuk Ify terus sibuk memetakan wajahnya dalam kanvas. Ya, melukis adalah hal yang dicintai Ify sedari kecil. Riolah yang paling sering menjadi objek lukisannya. Mengabadikan tiap gurat wajah laki-laki itu rupanya telah memberi kebahagiaan tersendiri bagi Ify.

“Aku memang bodoh. Pengecut. Aku terlalu takut melihatnya terluka,” balas Rio.

Rio lalu menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya yang mulai terbawa oleh perasaannya yang tak menentu. Ia tentu saja tidak ingin meninggalkan Shilla. Namun, mau bagaimana lagi? Toh, pada akhirnya ia memang harus meninggalkan gadisnya itu. Ini hanya masalah waktu. Semakin cepat ia meninggalkan Shilla, sepertinya semakin baik. Shilla akan semakin cepat mengeringkan luka yang ia torehkan itu.

“Dengan aku meninggalkannya dari sekarang, ia akan semakin cepat melupakanku, menemukan laki-laki lain, dan jatuh cinta lagi.” Rio tersenyum setelah menuntaskan kalimatnya. Namun, demi Tuhan, Ify sangat yakin bahwa laki-laki bodoh itu sedang mengiris lukanya sendiri. Perih… dan Ify turut merasakan itu.

“Aku meninggalkannya karena aku terlalu mencintainya.”

Ify tidak tahan lagi dengan semua yang dikatakan Rio. Ia berdiri dari duduknya, melepaskan dengan kasar tangannya yang berada dalam genggaman Rio.

“Lalu kenapa kau tidak meninggalkanku juga? Kenapa harus aku yang menanggung semua ini? Kenapa?” Ify tahu dirinya lepas kendali. Air matanya sudah terurai dan Rio melihat itu, melihat kerapuhan yang selama ini ia tutupi dengan sempurna.

Tak satu pun kata meluncur dari mulut laki-laki itu. Ia terdiam, benar-benar shock dengan apa yang baru saja dilihatnya. Ia hanya menatap ke dalam mata Ify dan kemudian terkejut mendapati sesuatu di dalamnya. Ada yang lain di sana…. Tergambar jelas sebuah perasaan yang Rio sendiri tidak tahu apakah itu baru saja muncul atau ia yang baru menyadarinya.

“Aku membencimu, Mario!” Ify berkata lirih sebelum akhirnya menghilangkan sosoknya dari jangkauan mata Rio.

Ify menarik langkahnya menuju sebuah sofa tak jauh dari kamar Rio tadi. Ia menumpahkan tangis yang selama ini ditahannya. Hatinya sangat ingin berteriak, menyuarakan semua kesah yang ia rasa.

Sebenarnya tak ada gunanya Ify menuturkan pertanyaan-pertanyaannya pada Rio tadi. Ify tahu betul apa jawabannya. Ify tahu apa alasan Rio tidak meninggalkannya.

Karena Ify adalah sahabat Rio.

Ya, karena mereka bersahabat baik sejak masih kanak-kanak dulu. Karena mereka masih tetap bersahabat baik meskipun sudah belasan tahun berlalu. Mereka tumbuh bersama, melalui masa kecil dan remaja bersama.

Sahabat tidak mungkin saling meninggalkan, kan? Dan sahabat selalu berbagi. Itulah alasan Rio. Ia tidak pernah sekali pun menyimpan apa pun dari Ify meskipun tanpa sepengetahuannya, Ify telah menyimpan sebuah rahasia besar darinya. Rahasia tentang perasaannya….

Ify masih larut dalam tangisnya. Ia terluka… tak tahukah Rio akan hal itu? Apakah Rio pikir ini adalah hal mudah bagi Ify?

Sama sekali tidak. Menyaksikan sahabat baik berada dalam kondisi sekarat itu menyakitkan. Ify menanggung kesakitan itu beberapa bulan terakhir ini. Menanggung sebagian sakit yang laki-laki itu rasakan.

Ify lelah… tetapi ia tidak bisa meninggalkan Rio. Tidak pernah bisa. Ia mencintai Rio. Ia sangat mencintai laki-laki bodoh itu yang hanya memikirkan perasaan Shilla tanpa pernah peduli bagaimana rasanya jadi dirinya… laki-laki yang tak pernah peduli seperti apa luka yang selama ini Ify tanggung sendiri.

by : RR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar