BEST COFFEE

Sabtu, 06 Februari 2021

JALANI, NIKMATI, SYUKURI

Pagi ini, di tengah keheningan kutulis sebuah cerita. Sambil menatap deretan kursi kosong di ruang guru, kumulai menggerakkan jariku ke layar android. Memang hari Sabtu jarang sekali guru yang datang di pagi hari, karena berbagai kesibukan dan lain hal. Sekolah yang baru ku masuki sebulan yang lalu ini memang bukanlah sekolah besar yang memiliki banyak guru. Sekolah ini hanya memiliki 8 guru honorer satminkal. Selebihnya ada beberapa guru "terbang" yang bahkan selama sebulan ini belum ku ketahui wajahnya.

Teringat  di suatu pagi yang dingin dan berawan, Ku kenakan baju hitam putih lengkap dengan atribut yang wajib kami kenakan untuk prosesi penerimaan SK CPNS Kabupaten Lampung Selatan. Betapa bahagianya perasaanku saat itu. Hal yang sudah lama ku impikan, hal yang sudah sangat ayahku nantikan akhirnya tiba. Menjadi seorang Pegawai Negeri seperti mimpi yang begitu indah. Ku bayangkan keseharian di sekolah yang baru, dengan status yang baru dan juga dengan nominal gaji yang baru. Ah, sungguh bahagia rasanya hari itu.

Tak terbayangkan olehku tantangan yang akan ku hadapi ke depan ternyata semakin berat. Hari pertama memasuki sekolah, aku bagaikan orang asing yang tak diharapkan. Seperti sebuah novel yang berjudul surga yang tak dirindukan, kini aku menjadi seorang guru yang tak dinantikan. Tak ada penyambutan, ucapan selamat datang dan lain sebagainya. Bahkan ucapan selamat bergabung pun hanya terucap dari Kepala Sekolah dan Operator Sekolah. Para guru yang lain bagaimana? Mereka sebenarnya baik, supel dan legowo menerima kehadiranku. Hanya saja, mungkin butuh sedikit waktu. Dan benar saja, tidak butuh waktu yang lama untuk "menebalkan muka" ini. Selang seminggu aku sudah berbaur dan benar-benar menjadi bagian dari mereka. Kebetulan di sini guru didominasi oleh para ibu yang memiliki hobi yang hampir sama.

Empat hari dalam seminggu menjalani tugas bersama rekan guru yang baik dan bersahabat sungguh menyenangkan. Sampai tiba saatnya sang Pengawas datang. Beliau seorang wanita paruh baya yang rapi, disiplin dan rajin. Dengan senyum manis memberi tugas pembuatan Perangkat Pembelajaran lengkap tiga kelas : 7, 8, 9 . Tugas ini terasa cukup berat, mungkin karena sebelumnya aku tidak pernah membuatnya secara utuh. Atau mungkin juga karena saat ini begitu banyak tugas lain dan pemberkasan yang terus saja bersambung seolah tiada habisnya. Belum lagi program induksi dengan 9 laporan sudah diagendakan di depan mata, latsar dan berbagai tugas lainnya pun sudah menunggu. Rasanya sungguh berat kepala ini, seperti membawa balok es yang keras dan dingin.

Tak terasa bulan Februari telah tiba. Diawali dengan gaji pertama yang sungguh menggembirakan, diiringi dengan beberapa berkas yang sudah terselesaikan. Oh, sungguh nikmat rasanya awal bulan ini. Selang dua hari, sang Pengawas kembali datang. Sesuai dengan apa yang diperintahkan sebulan yang lalu, perangkat pembelajaran ala kadarnya sudah kuselesaikan. Ketakutan dan keresahan sudah mulai berkurang. Ternyata segala sesuatunya tak serumit yang ku pikirkan, semua lancar dan tak begitu menyulitkan. Bahkan sang Pengawas pun, hari itu pulang tetap dengan senyum manisnya. Tidak ada bentakan, amarah atau apapun yang sebelumnya kutakutkan. Ya Allah, ternyata pikiranku saja yang terlalu berlebihan.

Jalani, Nikmati, Syukuri. Tiga kata ini seakan menjadi percikan air yang segar saat penat mulai melanda. Meskipun menjalani status sebagai CPNS tak semudah yang ku bayangkan, namun ternyata juga tak sesulit yang ku pikirkan.

Sebenarnya, di cerita ini ingin sekali kuceritakan betapa berat hari-hari awalku sebagai CPNS. Akan tetapi belum sempat ku ketik banyak kata, kedua rekan ku tiba di sekolah. Refleks kutinggalkan gadget ini, dan kami pun mulai bercerita tentang kehebohan dan kerepotan kami sebagai seorang ibu sekaligus guru. Seperti hari-hari sebelumnya, kegiatan piket hari ini kami penuhi dengan berbagai cerita seru dan berbagai makanan. Saking asyik bercerita sambil ngunyah, alur cerita ini pun ikut berubah. Padahal awalnya ku pikir dengan mengajar di sini aku akan cepat kurus, karena lelah dengan tugas dan tidak nafsu makan. Tapi ternyata, kelelahan dan kecanggungan itu hanya sebentar. Kini beban pikiranku semakin ringan, walau sepertinya justru badanku yang semakin berat. Diet oh diet, mungkin harus ditunda lagi niat dietku ini. Setelah jam 11 siang, Gorengan dan empek-empek sudah ludes kami makan. Sekotak salad buah pun sudah tak bersisa, menandakan waktu pulang telah tiba. Ku akhiri hari ini dengan suka hati, walau tentu saja masih banyak tugas yang menanti. Ku akhiri cerita ini dengan suka cita, walau berbagai tantangan sudah menunggu di depan mata.

Ditulis oleh : MIRNAWATI, S.Pd ( Anggota Best Coffee dari Provinsi Lampung )

5 komentar:

  1. Makasih bu udah berbagi pengalamannya... Seru bacanya 😊😊
    Semoga selalu diberi kelancaran dalam bertugas. Aamiin

    BalasHapus
  2. Bu pandai sekalu merangkai kata.....saya suka....jdi inspirasi...

    BalasHapus
  3. Selamat dan sukses selalu bu,, kerenπŸ‘

    BalasHapus
  4. Maaf ceritanya masih belepotan... Hehe. Terimakasih Pak Ardi, dan teman-teman semua πŸ™

    BalasHapus