BEST COFFEE

Selasa, 22 Desember 2020

22 Desember 2020

Barusan saya membaca sebuah postingan di fb yang ditulis salah seorang seleb facebook yang saya follow. Ia bercerita tentang masa lalunya; tentang beberapa keterbatasan yang ia miliki sebagai anak dari seorang ibu yang berprofesi sebagai asisten rumah tangga. 

Ah, mau nggak mau tulisannya itu melempar saya ke memori waktu kecil dulu. Mama saya juga seorang ART. Sebagai anak bungsu di keluarga, waktu kecil saya selalu ikut ke setiap rumah tempat mama saya bekerja (dan itu berlanjut sampai saya lulus SMA, pulang sekolah seringnya mampir ke rumah majikan mama). Dan sejak saat itulah saya mulai paham tentang konsep kaya dan miskin (secara materi). 

Saya melihat beberapa barang yang menurut saya mewah saat itu di rumah majikan-majikan mama. Salah satunya kulkas. Bagi saya dulu kulkas adalah barang mewah dan hanya dimiliki oleh orang kaya. Saya kecil juga dulu beranggapan bahwa sarapan orang kaya itu roti tawar dengan olesan selai ataupun taburan cokelat meses di atasnya. Kalau dipikir-pikir lucu juga pikiran saya waktu kecil dulu. Kocaknya lagi, dulu kalau makan vitamin hisap yang berbentuk bintang pemberian anak majikan mama, tiba-tiba aja saya merasa kaya. Wkwkwk. 

Salah satu hal yang dikerjakan mama di rumah majikannya yang menarik perhatian saya adalah menyetrika baju. Biasanya saya akan membantu mama mengambilkan hanger baju atau meletakkan baju-baju yang sudah disetrika. Kenapa menarik perhatian saya? Karena saya sering terkagum-kagum dengan baju yang mama setrika, apalagi kalau ada baju anak perempuannya. Bajunya bagus-bagus, pasti mahal pikir saya. Saya kadang membayangkan bagaimana kalau saya yang pakai baju itu. Tapi khayalan saya biasanya hanya berakhir dengan memakai baju bekas anak perempuan majikan mama. Itu pun udah bersyukur banget rasanya kalau dapat baju walaupun bekas. Seenggaknya, menambah baju ganti untuk sehari-hari di rumah. Karena setiap tahunnya mama cuma membelikan baju baru satu kali, menjelang lebaran. Itu pun biasanya membeli dengan cara mencicil di tukang kredit baju keliling. 

Hal kedua yang sering menjadi perhatian saya adalah mainan yang dimiliki anak majikan mama. Saya ingat ada satu mainan yang bagus banget menurut saya dulu. Istana mainan yang terbuat dari balok-balok susun. Persis istana putri di film-film kartun. Saya diam-diam sering memperhatikan istana mainan yang dipajang di lemari kaca itu. Cuma memandangi aja, karena berharap untuk memiliki pun sia-sia. Saya yakin harganya mahal. Orang tua saya mana mungkin sanggup beli. Jangankan mainan mahal, mainan murahan yang dijual abang-abang keliling aja saya nggak berani untuk minta dibelikan dulu. Percuma, nggak bakal dapat mainan, yang ada dapat ocehan dari mama kalau lagi nggak punya uang. 

Saya sering sedih kalau ingat bagaimana capeknya mama saya kerja dulu. Tapi itu menjadi pelajaran yang luar biasa banget untuk saya. Sejak kecil saya jadi tahu bahwa untuk dapat uang kita harus kerja keras. Saat umur lima tahunan, saya sering sapu halaman tetangga untuk dapat upah seratus rupiah. Setelah agak besar, mungkin sekitar kelas 4 SD, saya sering disuruh oleh tetangga yang punya usaha rumah makan untuk belanja bahan makanan ke warung ataupun untuk antar catering makan siang ke rumah orang. Tentu aja saya dapat upah dari si pemilik rumah makan. Kalau nggak dipanggil untuk bantu tetangga yang itu, sepulang sekolah saya langsung ke warung rujak milik saudara saya. Bantu apa aja sebisa saya waktu itu: cuci buah-buahan, menyiapkan piring-piring untuk pembeli yang ingin makan di tempat, ataupun bersih-bersih warung. Kadang ada tambahan job dari tetangga sebelah warung: mencabut uban dengan upah seratus rupiah tiap satu uban. Biasanya upah dari siang sampai sore itu saya tabung di sekolah besok harinya. Lumayan banget, karena selayaknya anak SD dulu, saya kadang malu kalau jarang menabung di sekolah seperti teman-teman. 

Beberapa bulan sebelum mama meninggal, saya sempat bayar ART untuk bantu kerjakan pekerjaan rumah. Waktu itu saya masih belum lulus kuliah dan kondisi fisik mama bisa dibilang udah cukup lemah. Mama saya orangnya nggak sabaran kalau untuk urusan pekerjaan rumah. Mana mama betah lihat cucian menumpuk dan keranjang setrikaan penuh dan harus menunggu akhir pekan untuk saya kerjakan. Makanya, saya cari orang untuk bantu di rumah biar mama bisa istirahat. Selain itu, saya juga ingin mama yang sejak saya kecil jadi ART merasakan punya ART di rumah.

Hampir sembilan tahun mama saya nggak ada. Ah, kadang saya membayangkan bagaimana kalau mama masih ada sekarang. Meskipun belum jadi orang kaya versi saya kecil dulu, tapi saya sekarang sering sarapan roti tawar seperti majikan mama dulu. Saya juga sekarang punya kulkas walaupun cuma satu pintu dan itu juga bukan beli sendiri, tapi hadiah pernikahan tujuh tahun lalu. Mungkin akan ada sedikit kebahagiaan di hati mama kalau melihat anak-anaknya sekarang hidup nggak sesusah saat kecil dulu.

Meskipun kasih sayang bisa ditunjukkan kapan saja, tapi coba yuk di momen hari ibu sekarang tunjukkan dengan lebih spesial lagi kalau ibu kalian masih ada. Kasih sayang nggak hanya ditunjukkan dengan memberi sesuatu berupa hadiah atau materi, perhatian dan waktu yang kita luangkan untuk ibu kita juga pasti menjadi hal yang membahagiakan untuk beliau.

Salam hormat untuk ibu-ibu tangguh yang membuat kalian berada di posisi kalian saat ini. Al Fatihah untuk mama. 💕💕


Andai ku bisa

Akan kubalas semua yang pernah engkau berikan

Terima kasih dariku

Atas ketulusanmu menyayangi diriku

Aku ada karena kau pun ada

Dengan cinta kau buat diriku hidup 

Selamanya

~~~

(Aku Ada Karena Kau Ada -  Radja) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar